Kapal Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Melonjak Hingga 10 Persen

Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan setelah laporan mengenai serangan terhadap setidaknya tiga kapal di dekat Selat Hormuz. Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah ini merupakan dampak balasan dari Iran terhadap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz adalah jalur strategis untuk pengiriman energi, di mana sekitar 20% dari total pasokan minyak dan gas dunia melintas. Setiap gangguan, sekecil apa pun, dapat menyebabkan fluktuasi besar dalam harga minyak, dan jika konflik berkepanjangan terjadi, dampaknya terhadap distribusi energi bisa sangat merugikan.
Berdasarkan informasi dari BBC, pada perdagangan awal Asia di hari Senin, 2 Maret 2026, harga minyak global sempat mengalami kenaikan lebih dari 10 persen sebelum sedikit mereda. Lonjakan ini mencerminkan respons pasar terhadap situasi yang sedang berkembang di kawasan tersebut.
Pada pukul 02.00 GMT, harga minyak mentah Brent tercatat naik lebih dari 4 persen, mencapai US$76,16 per barel, yang setara dengan sekitar Rp1,28 juta (dengan asumsi kurs Rp16.800). Sementara itu, minyak mentah dari Amerika Serikat diperdagangkan pada level US$69,67 per barel yang juga mencatatkan kenaikan sekitar 4 persen.
Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Research, menyatakan bahwa hingga saat ini pasar belum menunjukkan tanda-tanda kepanikan yang berlebihan. Menurutnya, “Pasar tidak sedang panik,” yang mencerminkan keyakinan bahwa situasi ini masih dapat dikelola.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini terlihat jelas bahwa transportasi dan infrastruktur produksi minyak belum menjadi target utama dalam konflik yang sedang berlangsung. Hal ini memberikan harapan akan pemulihan normalitas dalam distribusi energi.
Pasar akan terus memantau perkembangan lalu lintas di Selat Hormuz, karena kembalinya aktivitas perdagangan di jalur tersebut dapat membantu menstabilkan harga minyak yang mungkin kembali mereda.
Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa jika konflik berkepanjangan terus berlanjut dan mengganggu jalur distribusi, harga minyak bisa menembus angka US$100 per barel, setara dengan sekitar Rp1,68 juta. Ini akan menjadi titik kritis yang harus diwaspadai oleh para pelaku pasar.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa dua kapal telah terkena proyektil yang tidak dikenal, menyebabkan kebakaran. Sebuah proyektil lain dilaporkan meledak sangat dekat dengan kapal ketiga, namun seluruh awak kapal tersebut dilaporkan dalam keadaan selamat.
Iran sebelumnya telah memberikan peringatan kepada kapal-kapal agar tidak melintasi Selat Hormuz, yang mengakibatkan hampir terhentinya aktivitas pelayaran internasional di pintu masuk selat tersebut. Situasi ini menambah ketidakpastian di pasar minyak dunia.
Sekitar 150 kapal tanker dilaporkan berlabuh di perairan Teluk, menunggu situasi menjadi lebih aman untuk melanjutkan perjalanan. Platform pelacakan kapal Kpler mencatat bahwa hanya beberapa kapal dari Iran dan China yang tetap berani melintasi area yang kini menjadi sarang ketegangan ini.
➡️ Baca Juga: KCI Kantongi Identitas Pelaku Pelecehan Seksual di Stasiun Tanah Abang
➡️ Baca Juga: Potret Ioniq 5 Hancur Usai Tabrak Pejalan Kaki hingga 23 Motor di Sunter