Mojtaba Khamenei: Pemimpin Tertinggi Iran yang Ditolak oleh Donald Trump

Mojtaba Khamenei baru saja terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran, mengambil alih posisi yang sebelumnya dipegang oleh ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang meninggal dunia akibat serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.
Majelis Pakar Iran secara resmi mengumumkan pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga negara tersebut. Pernyataan ini mencantumkan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan “suara bulat dari para perwakilan yang terhormat” dalam majelis.
“Dalam sesi luar biasa yang berlangsung hari ini, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei … telah diangkat dan diperkenalkan sebagai pemimpin ketiga dari sistem suci Republik Islam Iran,” demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sebagai putra kedua dari mendiang Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei telah lama menjadi sosok yang diperbincangkan sebagai calon pemimpin tertinggi sebelum pengumuman resmi tersebut dikeluarkan.
Baik Israel maupun Amerika Serikat segera menanggapi pengangkatan ini dengan mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa siapapun yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru Iran akan menjadi “target untuk dieliminasi.”
Pada hari Kamis, Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada situs berita Axios bahwa Mojtaba Khamenei adalah pilihan yang “tidak dapat diterima”, menuntut agar Amerika Serikat terlibat secara langsung dalam proses pemilihan pemimpin Iran yang baru.
Mojtaba Khamenei, seorang ulama berusia 56 tahun, belum pernah memegang jabatan terpilih atau posisi resmi dalam pemerintahan Iran. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di pusat kekuasaan Iran, meskipun ia cenderung menghindari sorotan publik.
Lahir pada tahun 1969 di Mashhad, di timur laut Iran, Mojtaba dibesarkan dalam lingkungan politik dan religius yang berkembang setelah revolusi 1979. Di masa mudanya, ia menempuh pendidikan teologi di seminari-seminari di Qom dan dilaporkan turut berpartisipasi dalam fase akhir perang Iran-Irak.
Berbeda dengan banyak pemimpin Iran lainnya, Khamenei tidak pernah mengejar jabatan terpilih atau posisi penting dalam pemerintahan. Sebaliknya, ia secara bertahap membangun pengaruh di dalam kantor ayahnya, di mana ia dikenal sebagai anggota dari lingkaran kecil yang mengelola akses politik ke pemimpin tertinggi.
➡️ Baca Juga: Gresini Racing Mewarnai MotoGP 2026 dengan Sentuhan Budaya Indonesia yang Kuat
➡️ Baca Juga: Mengenal Berbagai Jenis Sayuran dan Manfaatnya untuk Kesehatan




