Bahlil Dorong Menteri Energi Indo-Pasifik untuk Kolaborasi di Tengah Ketidakpastian Pasokan Global

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, menekankan urgensi kolaborasi antarnegara yang saling menguntungkan di tengah situasi ketidakpastian global dan tantangan pasokan energi saat ini.
Pernyataan ini disampaikannya dalam forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business (IPEM) yang berlangsung di Tokyo, Jepang, di mana para Menteri Energi dari kawasan Indo-Pasifik berkumpul untuk berdiskusi.
“Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat satu sama lain dan bukan justru saling menjatuhkan,” ujar Bahlil dalam keterangannya pada Minggu, 15 Maret 2026.
Dalam konteks ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, isu ketahanan energi kembali menjadi topik hangat dalam forum tersebut. Pertemuan ini memberikan platform bagi para menteri dan pelaku industri energi dari negara-negara di Indo-Pasifik untuk berdiskusi secara terbuka.
Salah satu fokus utama adalah bagaimana negara-negara di kawasan ini dapat memperkuat kerjasama untuk mendukung ketahanan energi, yang menjadi semakin krusial di tengah konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah.
Bahlil menegaskan komitmen Indonesia terhadap kolaborasi energi dengan mengirimkan 150 kargo liquefied natural gas (LNG) pada tahun 2025 lalu untuk mendukung pasokan energi global. Selain itu, Indonesia juga menyuplai sekitar setengah dari total perdagangan batu bara dunia.
Dia menjelaskan bahwa ekspor energi dalam jumlah besar dari Indonesia berkontribusi signifikan terhadap pasokan energi global. Bahlil juga mengingatkan bahwa jika kolaborasi yang saling menguntungkan tidak terjalin, setiap negara akan lebih cenderung memprioritaskan kebutuhan domestiknya.
“Sebagai negara pengimpor minyak, jika kami tidak dapat memenuhi kebutuhan minyak, maka kami harus memanfaatkan potensi energi yang ada di dalam negeri, termasuk meningkatkan penggunaan crude palm oil (CPO) untuk biodiesel,” jelas Bahlil.
Indonesia dikenal sebagai produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, dengan volume ekspor mencapai 30 juta ton setiap tahunnya. Bahlil menambahkan bahwa dalam situasi kelangkaan energi yang ada saat ini, setiap negara cenderung lebih memprioritaskan kebutuhannya sendiri.
“Walaupun ada Perjanjian Paris yang mendorong transisi dari batu bara, kenyataannya saat ini banyak negara yang justru meningkatkan impor batu bara dari Indonesia,” ungkap Bahlil.
➡️ Baca Juga: Amalan Dianjurkan Rasulullah untuk Melindungi Diri dari Fitnah Dajjal
➡️ Baca Juga: Percepat Pemulihan Pascabencana di Pidie Jaya, Kasatgas Tito: Banyak Perubahan Terjadi




