Iran Menolak Resolusi Dewan Keamanan PBB yang Mendukung Agresi AS dan Israel

Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengkritik rancangan resolusi Dewan Keamanan yang didukung oleh negara-negara Teluk. Ia menyebut resolusi tersebut justru menempatkan Iran sebagai pihak agresor di kawasan, sementara Amerika Serikat dan Israel, yang memulai agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, seolah dibela. Ini terjadi di tengah upaya negosiasi terkait program nuklir Iran yang sedang berlangsung.
Menjelang pemungutan suara yang dijadwalkan, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dilaporkan telah mengutuk serangan rudal dan drone yang dilakukan oleh Iran terhadap negara-negara seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Mereka juga mendesak agar semua serangan dihentikan dengan segera.
“Beberapa anggota Dewan berusaha memutarbalikkan fakta mengenai siapa yang menjadi korban dan siapa yang agresor,” ungkap Iravani dalam konferensi pers di markas besar PBB di New York pada 10 Maret 2026, menjelang pemungutan suara yang akan berlangsung keesokan harinya.
Iravani menilai bahwa rancangan resolusi tersebut berupaya untuk memberikan penghargaan kepada pihak yang melakukan agresi, sembari menghukum pihak yang menjadi korban, melalui isi yang dinilai bias dan bermotif politik.
“Apabila rancangan ini diadopsi, hal itu akan sangat merugikan dan mengikis kredibilitas serta legitimasi Dewan,” tegasnya, sambil memperingatkan bahwa resolusi tersebut bisa menimbulkan konsekuensi jangka panjang.
Ia menambahkan, “Jika rancangan ini disetujui, kredibilitas dan reputasi Dewan Keamanan akan tercoreng.”
Iravani memperingatkan bahwa jika hal ini terjadi, maka para agresor seperti Israel dan Amerika Serikat akan mendapatkan legitimasi untuk melanjutkan tindakan agresi mereka.
Lebih jauh, Iravani menekankan bahwa masalah ini tidak hanya berkaitan dengan Iran. “Hari ini, yang menjadi target adalah Iran. Besok, bisa jadi negara berdaulat lainnya,” jelasnya.
Iravani juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mengambil tindakan segera demi menghentikan konflik berdarah yang tengah dihadapi oleh rakyat Iran.
Ia turut menggarisbawahi banyaknya korban yang jatuh akibat serangan yang dilancarkan oleh AS dan Israel, mengklaim bahwa kedua negara tersebut secara sengaja dan diskriminatif menargetkan warga sipil serta infrastruktur sipil di Iran.
Iravani melaporkan bahwa sejauh ini terdapat lebih dari 1.300 korban sipil yang teridentifikasi, disertai dengan hancurnya 9.669 lokasi sipil, termasuk 7.943 rumah tinggal dan 1.617 pusat komersial serta layanan.
“Jumlah ini terus meningkat setiap harinya seiring dengan berlanjutnya serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum perang di berbagai wilayah di Iran,” tambahnya.
➡️ Baca Juga: Hamas Menyampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Ali Khamenei, Kecam Serangan Brutal Israel dan AS
➡️ Baca Juga: Pengemudi Ioniq 5 Sempat Dikeroyok Usai Seruduk 23 Motor di Diskotek Sunter




