Gedung Putih Mengecam Penutupan Selat Hormuz yang Dinilai Tak Dapat Diterima

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada hari Rabu menanggapi laporan yang menyebutkan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz, hanya beberapa jam setelah dimulainya gencatan senjata yang masih rapuh dengan Amerika Serikat. Leavitt menekankan bahwa setiap upaya Iran untuk menghentikan lalu lintas laut akan dianggap sepenuhnya tidak dapat diterima.
Pernyataan ini disampaikan kepada para wartawan setelah media pemerintah Iran mengabarkan bahwa penutupan selat tersebut merupakan respons atas serangan Israel terhadap kelompok militan Hezbollah yang beroperasi di Lebanon, sebagaimana dilaporkan oleh The Times pada Kamis, 9 April 2026.
Dengan nada optimis, Leavitt menggambarkan gencatan senjata itu sebagai sebuah kemenangan bagi Amerika Serikat. Ia berbicara seolah-olah operasi militer AS di Iran telah berakhir. Namun, realitasnya adalah Iran belum memberikan komitmen untuk menghentikan pengembangan rudal balistik, dukungan terhadap kelompok proksi, atau rencananya untuk mengembangkan senjata nuklir yang sebelumnya menjadi target operasi militer di bawah pemerintahan Donald Trump.
Leavitt juga mengungkapkan bahwa tim negosiator AS yang diketuai oleh Wakil Presiden JD Vance, yang juga melibatkan menantu Trump, Jared Kushner, dan utusan Timur Tengah Steve Witkoff, akan melakukan pertemuan dengan pejabat Iran di Islamabad, Pakistan, pada hari Sabtu. Iran sendiri telah mengajukan proposal gencatan senjata yang terdiri dari 10 poin, yang mereka anggap sebagai dasar untuk pembicaraan dengan AS.
Namun, masih belum jelas apakah kedua belah pihak benar-benar akan menggunakan kerangka tersebut. Leavitt menyatakan bahwa AS sebelumnya menolak proposal awal 10 poin dari Iran. Ia menambahkan bahwa Iran telah mengajukan proposal baru menjelang tenggat waktu yang dianggap lebih logis dan berbeda secara signifikan dari usulan sebelumnya.
Menurut Leavitt, Presiden Trump menganggap proposal yang telah direvisi tersebut sebagai dasar yang layak untuk melakukan negosiasi. Ia juga menekankan bahwa pernyataan publik Iran sering kali tidak sejalan dengan komunikasi yang dilakukan secara tertutup dengan negosiator AS, sehingga kondisi sebenarnya dari proses negosiasi mungkin tidak sama dengan yang diketahui publik.
Pengumuman mengenai gencatan senjata tersebut disampaikan pada Selasa malam, tak lama sebelum batas waktu dari ancaman Trump untuk menghancurkan peradaban Iran jika para pemimpin negara itu gagal mencapai kesepakatan. Leavitt menegaskan bahwa serangan udara AS dan ancaman tersebut menjadi faktor kunci yang mendorong Iran untuk menyetujui gencatan senjata.
➡️ Baca Juga: Transformasi Digital yang Pesat Meningkatkan Prioritas Keamanan Data di Era Modern
➡️ Baca Juga: Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Turun Menjadi US$148,2 Miliar




