Adopsi AI di Indonesia Meluas: Dari GenAI ke Agentic AI dalam 2 Dekade Inovasi Infobip

Jakarta – Infobip, sebuah platform komunikasi berbasis cloud yang mengandalkan teknologi AI, merayakan dua dekade inovasi yang telah mengubah cara interaksi antara bisnis dan pelanggannya. Dari pengiriman satu SMS pertama kali di sebuah kota kecil di pesisir Adriatik, Kroasia, kini Infobip berhasil memproses lebih dari 700 miliar pesan setiap tahunnya.
CEO Infobip, Silvio Kutić, memperkirakan akan terjadi perubahan besar dalam cara berinteraksi antara merek dan konsumen di seluruh dunia. Menurutnya, model komunikasi yang saat ini didominasi oleh messaging application-to-person (A2P) akan bertransformasi menjadi agent-to-person, dan pada akhirnya akan berkembang menjadi interaksi agent-to-agent yang bersifat otonom pada tahun 2030.
Dengan cepatnya perubahan ini, Infobip melihat Agentic AI sebagai fase baru yang akan meredefinisi hubungan antara merek dan konsumen.
“Cara kita berinteraksi dengan merek terus mengalami perkembangan. Di era Agentic AI yang baru ini, merek perlu mengambil kesempatan untuk mengadopsi metode komunikasi yang lebih menyeluruh. Penting bagi mereka untuk memaksimalkan hyper-personalization melalui penerapan Agentic AI dan saluran komunikasi interaktif seperti RCS dan WhatsApp,” jelas Silvio dalam pernyataannya pada Senin, 30 Maret 2026.
Dalam konteks Indonesia, evolusi global ini mulai menunjukkan dampak yang nyata. Sejak memasuki pasar Indonesia pada tahun 2016, Infobip telah menyaksikan percepatan digital yang signifikan, didorong oleh meningkatnya penggunaan ponsel dan perubahan perilaku konsumen.
Selama beberapa tahun terakhir, Infobip juga berperan dalam meningkatkan adopsi GenAI untuk mendukung keterlibatan merek di berbagai sektor. Berdasarkan laporan Messaging Trends 2025 yang dikeluarkan oleh Infobip, sekitar 50 persen adopsi AI di Indonesia dipicu oleh GenAI.
“Tren ini diperkirakan akan terus mendominasi, namun Infobip juga memprediksi transisi menuju penerapan Agentic AI dalam beberapa tahun mendatang,” tambahnya.
Silvio juga mengungkapkan bahwa pasar Indonesia memiliki tantangan tersendiri bagi merek. Dengan keragaman sosial dan ekonomi yang cukup luas, merek tidak bisa lagi mengandalkan satu pendekatan komunikasi untuk semua segmen pasar.
Di sinilah pentingnya strategi hyper-personalization. GenAI telah banyak dimanfaatkan oleh merek untuk menyesuaikan pesan yang disampaikan, berdasarkan minat dan profil pelanggan, bahkan hingga mencapai tingkat hyper-personalization yang mendalam.
Silvio menekankan bahwa di sinilah peran Agentic AI menjadi sangat krusial. Bukan hanya berfungsi sebagai asisten yang memberikan jawaban, tetapi sebagai agen yang mampu bertindak secara mandiri untuk menyelesaikan masalah pelanggan melalui saluran komunikasi favorit mereka, seperti WhatsApp.
➡️ Baca Juga: Quraish Shihab Tegaskan kepada Prabowo: Kekuasaan Sebagai Ujian dari Tuhan
➡️ Baca Juga: Roy Suryo Menguraikan Langkah Rismon Dalam Mengajukan Restorative Justice Dengan Keyakinan Tinggi




