Rupiah Tertekan Setelah Pengumuman Surplus Neraca Dagang Indonesia Februari 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi, namun pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup dengan pelemahan.
Menurut informasi dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, pada Rabu, 1 April 2026, kurs rupiah berada pada level Rp 17.002 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 3 poin jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp 16.999 pada Selasa, 31 Maret 2026.
Sementara itu, pada perdagangan di pasar spot yang berlangsung pada Kamis, 2 April 2026 hingga pukul 09.06 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp 16.984 per dolar AS. Ini menunjukkan pelemahan sebesar 1 poin atau 0,01 persen dari level sebelumnya yang berada di Rp 16.983 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi dan pasar uang, mengungkapkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data yang menunjukkan neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026. Ini merupakan surplus perdagangan yang beruntun selama 70 bulan sejak Mei 2020. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan surplus perdagangan pada Januari yang tercatat sebesar US$0,95 miliar.
Surplus yang tercatat pada Februari 2026 didorong oleh surplus dari komoditas non-migas yang mencapai US$2,19 miliar. Beberapa komoditas utama yang berkontribusi terhadap surplus ini antara lain lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Indonesia mencatatkan total ekspor pada Februari 2026 mencapai US$22,17 miliar, yang menunjukkan kenaikan sebesar 1,01 persen dibandingkan dengan Februari 2025. Sementara nilai impor pada bulan yang sama mencapai US$20,89 miliar, mengalami kenaikan signifikan sebesar 10,85 persen dibandingkan tahun lalu.
Selain itu, data dari Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia menunjukkan penurunan ke level 50,1 pada Maret 2026, turun dari angka sebelumnya yang mencapai 53,8. Meskipun demikian, angka ini masih berada dalam zona ekspansi. Laporan dari S&P Global menunjukkan bahwa indeks yang merefleksikan aktivitas manufaktur nasional tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam kondisi operasional.
Data survei pada bulan Maret menunjukkan bahwa tingkat penurunan output produksi tergolong sedang, tetapi merupakan penurunan tajam dalam sembilan bulan terakhir sejak Juni 2025. Panelis mengindikasikan bahwa penurunan ini lebih dipengaruhi oleh kurangnya pasokan bahan baku dan kenaikan harga material, yang sebagian besar terkait dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian dalam perekonomian global.
“Mata uang rupiah memang mengalami fluktuasi, namun pada akhirnya ditutup melemah di rentang Rp 16.980 hingga Rp 17.020,” jelasnya.
➡️ Baca Juga: Raffi Ahmad Dapat Pujian atas Gaya Parentingnya Meski Rafathar Habiskan Rp30 Juta untuk Mainan
➡️ Baca Juga: Siasat Tersangka Korupsi Buang Sampah Tangsel ke Kota-kota Tetangga




