Ali Larijani Mundur, Siapa yang Saat Ini Memegang Kendali di Iran?

Ali Larijani sempat dianggap sebagai pemimpin de facto rezim di Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan rudal Israel yang diluncurkan dari luar angkasa pada 28 Februari lalu.
Sayangnya, Larijani juga menjadi korban dalam serangan terarah yang terjadi pada hari Selasa, yang menewaskan dirinya serta pimpinan milisi Basij, sayap paramiliter Garda Revolusi Iran (IRGC).
Kematian Larijani bukanlah kejadian yang terisolasi. Ia termasuk dalam deretan tokoh penting Iran yang tewas sejak dimulainya konflik ini. Di antara mereka adalah kepala Dewan Pertahanan Nasional, komandan IRGC, menteri pertahanan, dan kepala intelijen.
Setelah kematian Ayatollah Khamenei, Majelis Ahli Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Namun, sejak serangan yang merenggut nyawa ayah, istri, dan anaknya, Mojtaba tidak pernah terlihat di hadapan publik. Bahkan, ada pernyataan dari mantan Presiden Trump yang meragukan apakah Mojtaba masih hidup atau tidak.
Dalam situasi yang semakin rumit ini, muncul pertanyaan besar mengenai siapa sebenarnya yang saat ini memegang kendali di Iran. Banyak pengamat Republik Islam berpendapat bahwa kendali Iran kini berada di tangan para komandan IRGC, yang mungkin akan segera menunjuk seorang penerus baru dengan pendekatan yang lebih keras.
Serupa dengan pengganti Khamenei yang berasal dari keluarganya sendiri, ada kemungkinan bahwa pengganti Larijani juga akan datang dari keluarga Larijani, menurut pandangan para ahli kepada media.
Adik Ali Larijani, Sadiq Larijani, dianggap sebagai salah satu kandidat kuat untuk mengisi posisi kakaknya dan memimpin Iran selama Mojtaba masih menghilang dari pandangan publik, ungkap Yigal Carmon, presiden Middle East Media Research Institute di Israel.
Carmon menjelaskan, “Ia bisa menjadi kandidat yang diinginkan karena IRGC memerlukan sosok yang tegas. Mereka membutuhkan seseorang yang sejalan dengan visi mereka dan bersedia bekerja sama. Ia bukan pesaing bagi mereka, melainkan akan berkolaborasi dengan mereka.”
Janatan Sayeh, seorang analis Iran yang berafiliasi dengan Foundation for Defense of Democracies, juga menilai Sadiq sebagai kandidat yang paling potensial. Hal ini mengingat posisinya sebagai ketua Dewan Kebijaksanaan (Expediency Discernment Council) yang memiliki peran memberi nasihat kepada pemimpin tertinggi.
Sadiq Larijani memiliki pengalaman dan pengaruh yang cukup untuk menjadi pemimpin alternatif di tengah ketidakpastian ini. Dengan latar belakangnya di Dewan Kebijaksanaan, ia dapat berfungsi sebagai jembatan antara IRGC dan kekuatan politik lainnya di Iran.
Situasi di Iran saat ini menunjukkan bahwa kekosongan kepemimpinan dapat menciptakan peluang bagi individu-individu tertentu untuk meningkatkan posisi mereka. Dalam konteks ini, Sadiq bisa menjadi figur yang mampu menjaga stabilitas dalam negeri sambil tetap memenuhi tuntutan IRGC.
Ketidakpastian yang menyelimuti kepemimpinan Mojtaba Khamenei memberi ruang bagi para pemimpin militer untuk menguatkan pengaruh mereka. IRGC, sebagai kekuatan yang dominan di Iran, kemungkinan akan lebih mendorong pemimpin baru yang memiliki pandangan yang sejalan dengan agenda mereka.
Perubahan kepemimpinan di Iran tidak hanya berdampak pada dinamika politik domestik, tetapi juga pada hubungan internasional. Negara-negara lain, terutama yang memiliki kepentingan di Timur Tengah, akan memantau dengan cermat siapa yang akhirnya akan mengambil alih kendali di Iran.
Dengan situasi yang terus berkembang, penting untuk mencermati langkah-langkah yang diambil oleh IRGC dan para pemimpin baru yang mungkin muncul. Mereka tidak hanya akan menentukan arah kebijakan Iran ke depan, tetapi juga bagaimana negara tersebut akan berinteraksi dengan dunia luar.
Kendali di Iran saat ini tampaknya lebih kompleks dari sekadar pergeseran kekuasaan. Ini adalah tentang bagaimana posisi strategis diisi dan siapa yang memiliki legitimasi untuk memimpin di tengah krisis yang melanda negara tersebut.
Seiring dengan berjalannya waktu, kita akan melihat bagaimana berbagai faktor ini akan mempengaruhi proses pengambilan keputusan di Iran. Apakah Sadiq Larijani akan muncul sebagai pemimpin yang diinginkan oleh IRGC, atau akankah ada kandidat lain yang muncul dari bayang-bayang?
Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, semua mata akan tertuju pada Iran. Keputusan yang diambil oleh para pemimpin baru ini akan berdampak tidak hanya pada Iran, tetapi juga pada stabilitas regional dan hubungan internasional yang lebih luas.
➡️ Baca Juga: Negara Alternatif Pengganti Timnas Iran Jika Mundur dari Piala Dunia 2026
➡️ Baca Juga: Siasat Tersangka Korupsi Buang Sampah Tangsel ke Kota-kota Tetangga




