Wisata Alam di Maros: Destinasi Belajar Lingkungan yang Menarik dan Edukatif

Wisata alam tidak hanya menawarkan keindahan pemandangan dan kesempatan untuk melepas lelah, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup. Di Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pengelolaan potensi alam menjadi bagian integral dari upaya pelestarian kawasan karst dan mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Desa yang dikelilingi oleh bentang alam karst dan sumber air alami ini menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya alam dengan upaya perlindungan lingkungan. Sejak tahun 2019, salah satu langkah yang diambil adalah pengembangan kawasan wisata Dolli Bungaeja. Inisiatif ini tidak hanya memberikan alternatif sumber ekonomi bagi penduduk setempat, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam perawatan lingkungan.
Potensi alam yang berada di kawasan karst Tukamasea sangatlah berharga dan perlu dilestarikan agar tidak mengalami kerusakan. Oleh karena itu, pengembangan sektor wisata harus disertai dengan perencanaan yang mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta kepentingan komunitas lokal.
Sejak tahun 2021, pendampingan yang dilakukan oleh PINUS Sulawesi Selatan bersama pemerintah desa, kelompok perempuan, pemuda, dan pemerintah daerah telah mendorong partisipasi warga dalam perencanaan pembangunan. Masyarakat diajak untuk memahami dokumen perencanaan dan anggaran desa, agar kebutuhan akan lingkungan dan kelompok rentan tidak terabaikan.
Keterlibatan masyarakat juga sangat penting untuk memperluas pilihan sumber pendapatan. Di wilayah karst yang memiliki industri semen dan pertambangan, sektor pariwisata dapat menjadi alternatif ekonomi yang menjanjikan jika dikembangkan dengan pendekatan yang bertanggung jawab.
Salah satu aspek yang sangat krusial dalam pembangunan Tukamasea adalah keterlibatan perempuan melalui Kelompok Baca Anggaran (KBA). Kelompok ini berfungsi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan anggaran publik dan berperan aktif dalam mengawasi perencanaan pembangunan desa.
Partisipasi aktif dari masyarakat membantu memperjuangkan kebutuhan yang berkaitan dengan lingkungan, pendidikan, dan kesejahteraan kelompok-kelompok rentan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan desa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan kontribusi dari semua elemen masyarakat.
“Kelompok Baca Anggaran merupakan inisiatif masyarakat untuk terlibat secara partisipatif dalam proses perencanaan, penganggaran, dan pembangunan desa. Di Tukamasea, kita bisa melihat dampak positifnya: anggaran publik memberikan insentif bagi desa yang berkomitmen menjaga lingkungan. Ketika perempuan aktif dalam merumuskan dan mengawasi anggaran, dampak positifnya dirasakan warga secara langsung, mulai dari terciptanya lapangan kerja di sektor pariwisata hingga pemberian beasiswa untuk anak-anak desa. Model ini telah diterapkan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan dan terus kami dorong untuk diterapkan di wilayah lainnya,” ungkap Frans Siahaan, Direktur Environmental Governance The Asia Foundation Indonesia.
➡️ Baca Juga: Berhenti di Titik Ini Dapat Mengakibatkan Denda Rp500 Ribu, Wajib Diketahui!
➡️ Baca Juga: Hindari Macet Saat Mudik: Cek Jadwal Puncak dan Pilih Tanggal yang Tepat



