Menkes Budi Ingatkan Bahaya Kol Goreng Terkait Risiko Kanker dan Kolesterol

Kol goreng sering kali menjadi pendamping yang tak terpisahkan dari hidangan seperti ayam atau lele penyet. Dengan rasa gurih dan tekstur renyah, banyak orang merasa kurang puas jika tidak menyertakan sayuran yang diolah dengan cara digoreng ini dalam santapan mereka. Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan peringatan terkait kebiasaan mengonsumsi kol goreng yang perlu diperhatikan masyarakat.
Melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram-nya, Budi mengingatkan publik untuk lebih berhati-hati saat menikmati kol goreng, terutama jika proses penggorengannya melibatkan minyak yang telah digunakan berulang kali.
Dia menekankan beberapa risiko kesehatan yang mungkin muncul, seperti peningkatan kadar kolesterol dan bahaya yang terkait dengan pengolahan menggunakan minyak berkualitas rendah.
“Jika Anda mengonsumsi kol goreng setiap hari, saya dapat menjamin risiko kanker akan meningkat lebih cepat. Namun, rasanya kurang lengkap jika menikmati penyetan tanpa kol goreng, bukan? Tidak heran jika Anda terlihat muda tetapi kadar kolesterol sudah sangat tinggi,” ungkap Budi, yang dikutip pada Senin (19/10/2026).
Menurut Budi, kol sebenarnya merupakan sayuran yang kaya akan gizi dan terjangkau. Sayuran ini juga rendah kalori, sehingga dapat menjadi pilihan yang baik untuk melengkapi pola makan sehari-hari.
Dalam 100 gram kol segar, terdapat sekitar 24 kalori. Angka ini menunjukkan bahwa kol bisa dimasukkan ke dalam menu sehat, asalkan diolah dengan cara yang tepat.
“Kol 100 gram hanya mengandung 24 kalori. Sayuran ini tidak hanya murah, tetapi juga sehat. Namun, saat digoreng, Anda perlu mempertimbangkan minyak yang digunakan. Apakah minyak tersebut masih layak pakai? Jika minyak sudah hitam dan keruh, dan digunakan berulang kali, itu sangat berbahaya,” tegasnya.
Budi menyoroti penggunaan minyak jelantah, yakni minyak goreng yang telah dipakai berkali-kali. Proses pemanasan berulang, terutama ketika minyak telah berubah warna dan kualitas, berpotensi memicu pembentukan senyawa yang dapat merugikan kesehatan.
Namun, risiko kesehatan tidak hanya ditentukan oleh cara pengolahan kol, apakah digoreng atau dimakan mentah. Beberapa faktor lain juga berperan penting, seperti kondisi minyak, suhu, durasi penggorengan, serta pola konsumsi secara keseluruhan yang dapat mempengaruhi dampaknya terhadap kesehatan tubuh.
➡️ Baca Juga: Hajime Moriyasu Menolak Timnas Malaysia dan Memilih Bergabung dengan Klub di Belgia
➡️ Baca Juga: Bahan Otentik Neapolitan Pizza: San Marzano & Mozzarella di Bufala




