happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

depo 10k depo 10k
berita

Hari Keselamatan Pasien Sedunia: Pentingnya Farmakovigilans bagi Pasien PTM

Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti kanker, penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pernapasan kronis terus menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia.

Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PTM bertanggung jawab atas 74 persen dari total kematian global.

Karakteristik penyakit ini sering kali mengharuskan pasien untuk menjalani perawatan dan mengonsumsi obat dalam jangka waktu yang lama. Ironisnya, dalam proses perawatan yang panjang ini, WHO memperkirakan bahwa satu dari sepuluh pasien mengalami cedera yang seharusnya dapat dicegah saat menjalani pengobatan. Lebih dari setengah insiden cedera tersebut sebenarnya bisa dihindari.

Dengan latar belakang tersebut, pada peringatan Hari Keselamatan Pasien Sedunia yang jatuh pada tanggal 17 September 2026, International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) kembali menegaskan komitmennya terhadap keselamatan pasien.

Mengambil tema global dari WHO, IPMG meluncurkan kampanye lokal yang bertajuk “Cegah Penyakit Tidak Menular (PTM), Lindungi Nyawa.”

Kampanye ini berfokus pada penguatan sistem farmakovigilans, yang merupakan upaya untuk memantau dan mengawasi keamanan obat secara berkelanjutan.

Ketua IPMG, Evie Yulin, menekankan bahwa keselamatan pasien bukan hanya sekadar semboyan perusahaan, tetapi merupakan fondasi operasional yang dijalankan dengan serius melalui Kelompok Kerja Etika, Medis, dan Farmakovigilans (PV).

“Pasien dengan penyakit tidak menular sering kali harus menjalani terapi jangka panjang. Oleh karena itu, pengawasan terhadap keamanan obat tidak hanya berhenti setelah produk mendapatkan izin edar, tetapi harus terus dilakukan selama obat digunakan. Melalui sistem farmakovigilans, perusahaan-perusahaan anggota IPMG berkomitmen untuk memastikan setiap informasi terkait keamanan obat terdeteksi, dievaluasi, dan ditindaklanjuti dengan cepat demi keselamatan pasien,” jelas Evie dalam pernyataannya pada 17 September 2026.

Sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), 24 perusahaan farmasi yang tergabung dalam IPMG diwajibkan untuk menjalankan sistem farmakovigilans secara mandiri. Sistem ini sangat penting untuk mendeteksi dan mengevaluasi reaksi obat yang tidak diinginkan dalam masyarakat.

Praktik pengawasan yang ketat ini didukung oleh tiga pilar utama. Pertama, kepatuhan terhadap prosedur internal melalui pelatihan yang intensif bagi karyawan dan mitra bisnis.

Kedua, mitigasi risiko dengan melakukan evaluasi laporan efek samping secara berkala agar informasi mengenai keamanan obat selalu terkini. Ketiga, penyediaan edukasi yang berkelanjutan dan transparan bagi tenaga medis serta pasien.

    ➡️ Baca Juga: Demian Aditya Mengungkap Alasan Tak Bertemu Anaknya Selama 14 Tahun

    ➡️ Baca Juga: Mitos dan Fakta tentang Kesehatan Mental

    Related Articles

    Back to top button