El Nino Diperkirakan Menyebabkan 451.000 Kematian, Indonesia Terdampak Signifikan

Fenomena El Nino yang sedang berlangsung diprediksi akan memiliki konsekuensi yang sangat serius bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Sebuah laporan terkini menunjukkan bahwa peningkatan suhu yang disebabkan oleh El Nino kali ini dapat berujung pada sekitar 451.000 kematian hingga Februari 2027.
Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak fenomena ini. Mengacu pada informasi yang dirilis oleh The Guardian pada Rabu, 21 Oktober 2026, prediksi tersebut mencakup angka kematian akibat suhu ekstrem selama periode antara Juni 2026 hingga Februari 2027.
Negara-negara yang diperkirakan akan mengalami dampak paling parah dalam enam bulan mendatang meliputi Nigeria, Indonesia, Sudan, India, dan Brasil. Di sisi lain, Amerika Serikat diproyeksikan menghadapi tambahan 3.500 kematian akibat suhu yang meningkat.
Michael Greenstone, seorang profesor di University of Chicago dan salah satu pendiri Climate Impact Lab yang terlibat dalam penyusunan laporan tersebut, menekankan bahwa angka kematian ini mencerminkan dampak nyata yang akan dihadapi masyarakat.
“Perkiraan sebanyak 451.000 orang adalah angka yang sangat signifikan dan bisa membuat kita merasa tidak berdaya, namun angka tersebut terdiri dari orang-orang yang dekat dengan kita—para lansia, anak-anak, kakek-nenek, hingga teman-teman dan kolega yang menjalani kehidupan sehari-hari,” jelas Greenstone.
El Nino tidak hanya meningkatkan suhu, tetapi juga memperburuk dampak dari pemanasan global yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Fenomena ini merupakan bagian dari siklus iklim alami yang memengaruhi pola suhu dan cuaca di seluruh dunia. Namun, efek dari pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia dapat memperburuk dampak yang ditimbulkan oleh El Nino.
Kondisi yang sedang terjadi saat ini bahkan telah melampaui rekor tertinggi yang pernah dicatat sebelumnya.
Para peneliti memperkirakan bahwa dampak dari El Nino tidak hanya akan terlihat dalam bentuk suhu yang ekstrem, tetapi juga dalam bentuk kekeringan, kebakaran hutan, dan banjir. Semua ini berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, ketersediaan air bersih, serta ketahanan pangan.
Menurut Friederike Otto, seorang profesor di Imperial College London, fenomena El Nino saat ini terjadi di tengah kondisi iklim yang semakin memanas akibat aktivitas manusia. “Oleh karena itu, di berbagai belahan dunia, kita akan menyaksikan kondisi panas yang ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya, bersamaan dengan semua konsekuensi yang mungkin timbul terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan tekanan terhadap ketersediaan air,” ungkap Otto.
Laporan yang disusun menggunakan metode yang telah melalui proses penelaahan sejawat ini menghitung hubungan antara suhu dan kematian akibat panas di lebih dari 24.378 wilayah di seluruh dunia. Data yang diperoleh kemudian dipadukan dengan proyeksi kenaikan suhu yang disebabkan oleh El Nino.
➡️ Baca Juga: Raih Omzet Jutaan dari Bisnis Frozen Food yang Dijalankan di Rumah Anda
➡️ Baca Juga: KPK Menyatakan TNI-Polri dan Jaksa Sudah Terima THR, Kepala Daerah Tidak Perlu Memberikan Lagi




