Anggota DPR AS Menerima Kritik Keras Usai Klaim Umat Muslim Tak Diterima di Amerika

Seorang anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Andy Ogles, sedang menghadapi kecaman yang signifikan di dunia maya. Politisi ini baru-baru ini memposting pernyataan yang bernada Islamofobia di akun X miliknya. Dalam unggahannya, Ogles secara tegas menyatakan bahwa umat Muslim tidak memiliki tempat dalam masyarakat Amerika.
“Muslim tidak termasuk dalam masyarakat Amerika. Pluralisme hanyalah sebuah kebohongan,” tulisnya, seperti yang dikutip oleh Middle East Eye pada Rabu, 11 Maret 2026.
Saat ini, belum jelas apa yang mendorong Ogles untuk mengeluarkan pernyataan tersebut. Namun, respons dari masyarakat sangat cepat dan negatif, dengan banyak kritik yang datang dari berbagai kalangan.
Organisasi advokasi Muslim di Amerika, Council on American–Islamic Relations (CAIR), turut mengutuk pernyataan tersebut, menyebut Ogles sebagai seorang ekstremis yang anti-Muslim.
“Dia merupakan anggota dari kelompok yang dikenal sebagai ‘Sharia-Free America Caucus’, yang terdiri dari anggota DPR yang mendukung undang-undang ekstrem yang, jika disahkan, pada dasarnya akan melarang praktik Islam di Amerika Serikat,” demikian pernyataan dari organisasi tersebut.
CAIR juga menekankan bahwa Islam telah menjadi bagian integral dari sejarah Amerika sejak lama.
“Islam adalah agama yang telah ada di Amerika sejak era kolonial, ketika banyak Muslim dibawa sebagai tenaga kerja budak tanpa kebebasan pribadi atau kebebasan beragama,” kata organisasi ini.
Pernyataan Ogles telah memicu reaksi keras dari sejumlah anggota Partai Demokrat, yang menganggap retorika tersebut sebagai bentuk Islamofobia yang jelas.
Judy Chu menganggap pernyataan tersebut sangat menjijikkan, sementara Lisa Blunt Rochester mendesak pemimpin Partai Republik untuk secara terbuka mengecam sikap anggota Kongres dari Tennessee tersebut.
Di sisi lain, Katherine Clark melalui akun X-nya menyatakan bahwa ucapan tidak pantas seperti yang disampaikan oleh Ogles tidak memiliki tempat dalam masyarakat Amerika.
“Politisi Republik yang mendukung pandangan seperti ini tidak layak untuk berada di Kongres,” tulisnya.
Tren Islamofobia di media sosial telah meningkat pesat di Amerika.
Para pengguna platform media sosial melaporkan adanya lonjakan yang signifikan terkait dengan konten anti-Muslim di X, terutama setelah serangan udara gabungan yang diluncurkan oleh Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari.
Sementara itu, lembaga Center for the Study of Organized Hate yang berbasis di Washington DC melaporkan bahwa banyak unggahan yang dengan jelas merendahkan, mengucilkan, dan menghasut kekerasan terhadap umat Muslim dalam periode antara 1 Januari hingga 5 Maret.
➡️ Baca Juga: BNPB Distribusikan Bantuan ke Korban Banjir Aceh
➡️ Baca Juga: Biskita Trans Pakuan Kembali Beroperasi 8 April, Bisa Pakai QRIS




