GICC Mempercepat Transisi Ekonomi Hijau di Kawasan ASEAN untuk Masa Depan Berkelanjutan

Jakarta – Green Innovation Cooperation Center (GICC) berperan aktif dalam mempercepat transisi ekonomi hijau di kawasan ASEAN.
GICC menyampaikan inisiatif ini dalam sebuah seminar internasional yang bertajuk “Enhancing the Sustainability of a Green Economy through the Utilization of Renewable Energy and Sustainable Finance by Strengthening MSMEs and Cooperatives in the ASEAN Region”, yang diadakan di Binus University Bekasi.
Inisiatif GICC merupakan bagian dari ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center), sebuah organisasi yang berpusat di Republik Korea dan fokus pada pengembangan inovasi ramah lingkungan serta penguatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di negara-negara anggota ASEM.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, termasuk Kim Heesoon selaku Direktur GICC, Lee Young Jick yang menjabat sebagai Ketua ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, serta George Wijaya Hadipoespito, Vice President dari BINUS Higher Education.
Di samping itu, hadir pula Bastian, Kepala Biro Manajemen Kinerja dan Kerja Sama di Kementerian UMKM Republik Indonesia, serta perwakilan dari pemerintah Indonesia dan BINUS University, termasuk pejabat dari Kementerian Koperasi, Kementerian UMKM, dan pemimpin akademik.
Kim Heesoon, dalam sambutannya, menekankan bahwa untuk mencapai transisi menuju ekonomi berkelanjutan, diperlukan sinergi yang kuat dari semua pihak terkait.
“Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting. UMKM dan koperasi harus menjadi pilar utama dalam ekonomi ASEAN,” ungkap Kim dalam keterangannya pada 25 April 2026.
Dalam praktiknya, pelaku UMKM sering menghadapi berbagai kendala teknis. Andi Darell Alhakim, seorang analis Dekarbonisasi Bisnis dari University of Oxford yang menjadi pembicara dalam acara tersebut, menyatakan bahwa proses transisi hijau bisa dilakukan secara bertahap.
“Bagi banyak UMKM, tantangan utama bukanlah kurangnya solusi, melainkan ketidakpastian tentang dari mana harus memulai. Sebenarnya, langkah-langkah kecil dan praktis dapat membawa dampak yang signifikan,” jelas Andi.
Di samping kesiapan pelaku usaha, adanya ekosistem pendukung yang inklusif juga sangat diperlukan. Dalam konteks ini, Lee Young-jick, Kepala ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, menyoroti pentingnya harmonisasi antar-sektor.
“Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan adalah kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di kawasan ASEAN,” tegasnya.
Melalui seminar ini, GICC berharap dapat terus mendorong kemitraan strategis antara sektor publik dan swasta, guna mewujudkan ekosistem ekonomi hijau yang tangguh dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.
➡️ Baca Juga: Ulasan Lengkap Wireless Presentation Clicker untuk Kontrol Slide Profesional yang Efisien
➡️ Baca Juga: 10 Game Terpopuler Sepanjang Masa: Dari CrossFire hingga Roblox yang Wajib Dimainkan



