Merek Mobil China Diminta Membangun Pabrik di RI untuk Meningkatkan Penjualan

Pemerintah Indonesia mengajak produsen otomotif dari China yang masih bergantung pada metode perakitan atau Completely Knocked Down (CKD) untuk mulai membangun fasilitas produksinya di dalam negeri. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi industri otomotif lokal serta menciptakan lapangan kerja.
Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, yang memberikan tanggapan positif terhadap investasi yang dilakukan oleh BYD di Indonesia.
Setia menilai bahwa langkah investasi BYD ini merupakan langkah signifikan, karena tidak hanya berfokus pada perakitan kendaraan, tetapi juga mencakup pengembangan ekosistem produksi yang lebih komprehensif, dari hulu hingga hilir.
“Ini adalah kesempatan yang sangat langka, karena kita menerima investasi baru yang mencakup berbagai tahap seperti stamping, welding, dan painting, termasuk untuk kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia,” ungkap Setia di Subang, Jawa Barat.
Ia mengungkapkan bahwa nilai investasi yang ditanamkan BYD untuk membangun ekosistem otomotif di Indonesia mencapai lebih dari Rp16 triliun, yang menunjukkan komitmen yang kuat untuk berkontribusi pada industri lokal.
Investasi ini mencakup berbagai tahapan produksi, mulai dari stamping, welding, painting, hingga proses akhir perakitan kendaraan. Selain itu, pengembangan sektor baterai juga direncanakan untuk menyusul dalam waktu dekat.
Setia berharap bahwa investasi BYD tidak hanya terbatas pada produksi kendaraan dan baterai saja. Pemerintah juga ingin melihat terbentuknya ekosistem yang mendukung pengolahan kembali baterai kendaraan listrik, atau biasa dikenal dengan proses recycling.
“Ke depan, kami berharap akan ada investasi berkelanjutan dari BYD untuk menciptakan ekosistem recycling baterai ini,” tambahnya.
Menurut Setia, langkah yang diambil oleh BYD dapat menjadi contoh bagi produsen mobil lainnya yang saat ini masih menjalankan skema CKD di Indonesia. Ini merupakan sinyal positif yang diharapkan dapat diikuti oleh merek-merek lain.
Ia menjelaskan bahwa para pelaku industri yang terlibat dalam program Low Carbon Emission Vehicles (LCEV) memiliki tanggung jawab investasi yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, produsen yang ingin melanjutkan program ini tidak cukup hanya melakukan kegiatan perakitan saja.
“Produsen lain yang saat ini hanya beroperasi dengan sistem CKD harus mulai memikirkan investasi seperti ini. Mereka perlu memiliki lahan dan fasilitas produksi sendiri agar dapat beroperasi secara mandiri,” jelasnya.
Dengan demikian, pemerintah mengharapkan agar merek-merek yang telah memasuki pasar kendaraan listrik di Indonesia dapat secara bertahap meningkatkan kontribusi mereka terhadap industri lokal. Ini merupakan langkah penting untuk menciptakan ekosistem otomotif yang berkelanjutan dan mandiri di Indonesia.
➡️ Baca Juga: Pemulangan Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Dijadwalkan Hari Jumat atau Sabtu
➡️ Baca Juga: Produk Olahan Buah dan Sayur Indonesia Terjual Ratusan Juta di Chile




