pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

depo 10k depo 10k
berita

Kesaksian Penumpang Selamat KM Virgo Transport 8 Setelah Terombang-ambing 3 Jam di Laut

Bertahan di tengah gelombang laut yang ganas selama tiga jam hanya dengan perahu karet menjadi pengalaman yang menegangkan bagi Ahmad Saudi, salah satu penumpang yang selamat dari insiden tenggelamnya KM Virgo Transport 8.

Ahmad bersama dengan 14 penumpang lainnya terpaksa menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu karet saat angin kencang dan ombak besar terus menerpa. Dalam kegelapan malam di lautan, mereka hanya bisa menunggu kedatangan kapal penolong yang diharapkan dapat membawa mereka kembali ke tempat yang lebih aman.

“Di atas perahu karet itu ada 15 orang, dan kami semua selamat saat dievakuasi oleh kapal yang datang membantu. Sebagian besar adalah laki-laki, dan tidak ada perempuan di antara kami,” ungkapnya saat ditemui di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada malam Minggu, 13 September 2026.

Ahmad menjelaskan bahwa situasi di atas perahu karet sangatlah sulit. Selama menunggu bantuan, mereka terus menerus dihantam oleh angin dan ombak yang cukup tinggi, membuat setiap detik terasa semakin menegangkan.

“Gelombang terasa sangat kuat di perahu. Kami terombang-ambing selama tiga jam, dihantam ombak yang besar dan angin yang kencang,” ujarnya dengan nada yang masih menggambarkan ketegangan saat itu.

Meski dalam keadaan penuh ketidakpastian, seluruh penumpang yang berada di perahu karet bersama Ahmad akhirnya berhasil dievakuasi oleh kapal penolong yang datang tepat waktu.

Sebelum mencapai perahu karet, Ahmad mengalami momen-momen kritis saat KM Virgo Transport 8 mulai kehilangan keseimbangan dan hampir tenggelam.

Sekitar pukul 01.20 Wita, Ahmad mengaku sedang terlelap di sofa. Ia terbangun setelah mendengar suara seorang penumpang yang panik berlari dan memberitahukan bahwa kapal sedang miring.

“Saya bertanya, ada apa? Dia menjawab bahwa kapal miring. Ketika saya berdiri, ternyata memang benar kapal sudah miring. Saya langsung berlari ke bawah,” cerita Ahmad.

Ia berusaha bertahan dengan berpegangan pada tiang di dekat jendela saat kapal terus miring, dan akhirnya Ahmad berhasil bergerak menuju bagian atas kapal.

“Saya berpegangan pada tiang jendela sampai kapal makin miring. Setelah itu, saya naik ke atas dan menunggu kapal sampai tenggelam,” katanya sambil mengenang saat-saat menegangkan tersebut.

    ➡️ Baca Juga: Ulasan Kualitas Audio DAC Portabel untuk Musik Berkualitas Tinggi yang Optimal

    ➡️ Baca Juga: Percepat Pemulihan Pascabencana di Pidie Jaya, Kasatgas Tito: Banyak Perubahan Terjadi

    Related Articles

    Back to top button