PBNU Terima Konsesi Tambang: Kontradiksi dengan Jargon ‘Merawat Jagad’ yang Diterapkan

Langkah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di bawah kepemimpinan KH. Miftachul Akhyar dan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dalam menerima konsesi tambang telah memicu berbagai kritik dan sorotan tajam dari berbagai kalangan.
Pengasuh Pondok Pesantren Ekologi dan Ketua Partai Hijau, KH Roy Murtadho (Gus Roy), menilai bahwa keputusan PBNU tersebut bertentangan dengan visi yang sering diungkapkan oleh Gus Yahya, yaitu “Merawat Jagad, Membangun Peradaban.”
Kritik ini disampaikan Gus Roy ketika ia menjadi pembicara dalam acara Rembug Warga NU Seri 5 yang mengangkat tema “Tambang Ormas NU: Menimbang Fikih, Kemandirian Ekonomi, Keadilan Gender, dan Keberlanjutan Lingkungan.”
Diskusi tersebut berlangsung di Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, Institut Pertanian Bogor (IPB), pada tanggal 15 Agustus 2026.
“Ini sangat disayangkan. Meskipun ada nuansa sentimentil dan melankolis, saya merasa perlu untuk menyampaikan ini secara terbuka dan dewasa. Terutama bagi kami, santri NU, yang selama ini terlibat dalam advokasi dan penelitian terkait isu-isu sosio-ekologis,” ungkap Gus Roy.
Rasa kecewa yang dirasakan Gus Roy bukan tanpa alasan. Sebagai seseorang yang terjun langsung ke lapangan, terutama di Kalimantan, ia telah melakukan riset, pendampingan, dan bahkan memproduksi film dokumenter bersama PusDok mengenai masalah sosial-ekologis. Di sana, ia menyaksikan sendiri dampak negatif industri ekstraktif terhadap masyarakat.
“Saya berinteraksi langsung dengan para korban tambang, melihat bagaimana mereka digusur dan kehilangan ruang hidup tanpa mendapatkan perlindungan yang layak,” ceritanya.
Berbagai upaya telah ia lakukan untuk memperjuangkan hak-hak para korban, termasuk mendatangi berbagai instansi pemerintah, meskipun sering kali hasilnya nihil. Dalam konteks perjuangan tersebut, langkah PBNU yang berpartisipasi dalam bisnis tambang terasa sangat mengecewakan baginya.
“Sudah berkali-kali saya mencoba menghubungi instansi pemerintah, tetapi selalu diabaikan. Sebagai santri NU, saya harus jujur bahwa keputusan PBNU untuk menerima konsesi tambang membuat saya merasa sangat sedih dan kecewa,” tuturnya.
Di satu sisi, Gus Roy sebenarnya menghargai visi besar “Merawat Jagad, Membangun Peradaban”. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara narasi dan praktik organisasi PBNU saat ini.
“Namun, semakin ke sini, sepertinya arah yang diambil justru semakin jauh dari visi tersebut. Praktik yang ada tidak mencerminkan semangat ‘Merawat Jagad, Membangun Peradaban’. Ini adalah sebuah catatan penting yang harus kita perhatikan bersama,” tegasnya.
➡️ Baca Juga: Kurangi Konsumsi Minuman Manis untuk Menjaga Kesehatan Ginjal Anda Secara Efektif
➡️ Baca Juga: Wamenaker Gebrak Meja Saat Sidak Pabrik Milik Jan Hwa Diana




