Bakom Terancam Serangan Kekuatan Asing di Media Sosial, Qodari Ungkap Fakta Tersembunyi

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, mengemukakan bahwa lembaganya saat ini tengah menjadi sasaran serangan dari kekuatan asing melalui berbagai unggahan di media sosial yang berasal dari akun anonim. Ia mengibaratkan postingan tersebut sebagai “surat kaleng” dalam versi modern.
Qodari menjelaskan bahwa unggahan anonim tersebut tidak hanya berdiri sendiri, tetapi juga diperkuat dengan pemberitaan di berbagai media. Ia menilai situasi ini adalah bagian dari serangan sistematis terhadap Bakom.
“Saat ini, Bakom sedang berada dalam kondisi diserang. Kami menghadapi serangan yang ditandai dengan beredarnya surat kaleng dalam format modern, yaitu postingan dari akun media sosial yang tidak jelas,” ungkap Qodari kepada wartawan di kantornya, Rabu, 30 September 2026.
Menurut Qodari, ia menyebut unggahan itu sebagai surat kaleng karena identitas pembuatnya tidak bisa dikenali. Ia menyoroti bahwa perbedaan dengan surat kaleng di masa lalu terletak pada media yang digunakan, bukan pada esensinya.
“Saya menyebutnya anonim karena saya tidak tahu siapa yang membuatnya. Ini adalah surat kaleng, Pak. Dulu, surat kaleng itu dikirim dalam bentuk kertas, kini sudah berubah dengan kemajuan teknologi menjadi postingan di media sosial. Namun, esensinya tetap sama,” tegasnya.
Selain itu, Qodari juga menyinggung adanya informasi tentang rencana demonstrasi yang akan dilakukan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari salah satu universitas swasta.
Ia kemudian mengaitkan serangan ini dengan pihak-pihak yang ia sebut sebagai oligarki, kekuatan asing, serta “londo ireng”. Menurut Qodari, mereka merasa terancam akan perkembangan Bakom menjadi lembaga yang lebih berpengaruh.
“Surat kaleng ini mencerminkan ketakutan oligarki, kekuatan asing, dan ‘londo ireng’ yang khawatir bahwa di bawah kepemimpinan M. Qodari, Bakom akan tumbuh besar dan menjadi sulit untuk mereka lawan,” tambahnya.
Qodari menggunakan analogi kapal untuk menjelaskan perkembangan Bakom. Ia menyatakan bahwa ada upaya dari pihak tertentu untuk menghalangi transformasi Bakom menjadi lembaga yang lebih besar.
“Mereka merasa terancam jika Bakom bertransformasi dari kapal tunda menjadi kapal induk. Saat ini, mereka tengah berusaha untuk mengintervensi dan mempengaruhi pimpinan negara agar tidak memberikan kepercayaan kepada Bakom untuk berkembang menjadi kapal induk dari asalnya yang merupakan kapal fregat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa serangan tersebut adalah bagian dari upaya untuk memenangkan pertarungan dalam narasi publik. Menurutnya, pihak-pihak yang menyerang Bakom akan mendapatkan keuntungan jika lembaga tersebut tetap dalam skala kecil.
➡️ Baca Juga: Krisis Air Bersih: Solusi untuk Masyarakat Pedesaan
➡️ Baca Juga: Panduan Langkah demi Langkah untuk Melakukan Pull-Up Pertama Anda dengan Sukses




