DPR Mendesak Pemerintah Evaluasi Harga Avtur untuk Menekan Biaya Tiket Pesawat yang Tinggi

Tingginya harga avtur dinilai sebagai faktor utama yang berpengaruh signifikan terhadap biaya operasional penerbangan serta harga tiket pesawat yang harus dibayar oleh masyarakat.
Menyikapi hal ini, Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap komponen pembentuk harga avtur, termasuk berbagai beban pajak, agar biaya penerbangan tetap dalam batas yang kompetitif.
Menurut Syarif, tingginya harga tiket yang disebabkan oleh harga avtur menjadi perhatian serius bagi Komisi XII DPR RI, terutama karena hal ini berkaitan langsung dengan sektor energi yang sangat krusial.
Ia menegaskan bahwa tingginya biaya bahan bakar pesawat tidak hanya dipengaruhi oleh biaya pengolahan, tetapi juga oleh pajak yang dibebankan kepada avtur.
“Ini menjadi perhatian kami di Komisi XII, khususnya mengenai isu avtur. Harus diingat bahwa bukan hanya biaya pengolahan avtur yang tinggi, tetapi pajak yang diterapkan juga sangat membebani,” ujar Syarif saat diwawancarai pada Senin, 5 Oktober 2026.
Legislator dari Fraksi Partai NasDem ini menjelaskan bahwa struktur biaya avtur harus dikaji secara komprehensif, karena hal ini berdampak langsung pada biaya operasional maskapai penerbangan.
Kenaikan biaya operasional tersebut pada gilirannya akan memengaruhi harga tiket yang harus dibayar oleh penumpang.
Oleh karena itu, Syarif meminta pemerintah agar memperhatikan kebijakan perpajakan yang berkaitan dengan avtur, agar dapat memberikan dampak positif bagi industri penerbangan.
Ia juga mendorong Kementerian Keuangan untuk lebih memahami dampak yang ditimbulkan oleh struktur pajak terhadap sektor penerbangan.
Hal ini penting karena pemerintah perlu menjaga konektivitas udara serta keberlangsungan operasional bandara di berbagai daerah di Indonesia.
“Avtur dikenakan berbagai jenis pajak selain PPN. Ini yang harus dibenahi. Kementerian Keuangan juga perlu peka terhadap masalah ini,” tambahnya.
Syarif juga mengingatkan bahwa peningkatan harga tiket pesawat dapat memengaruhi pilihan masyarakat dalam memilih moda transportasi.
Kondisi ini menjadi semakin relevan, terutama dengan meluasnya jaringan jalan tol yang menyediakan alternatif perjalanan darat untuk berbagai rute.
“Jangan sampai penerbangan menjadi barang mahal. Jika biaya penerbangan melambung, masyarakat akan lebih memilih transportasi darat. Apalagi, saat ini sudah banyak jalan tol,” ungkapnya.
Menurut Syarif, pergeseran penumpang dari transportasi udara ke jalur darat dapat memiliki dampak signifikan bagi industri penerbangan serta operasional bandara.
Penurunan jumlah penumpang berpotensi membuat kapasitas infrastruktur bandara tidak terpakai secara optimal, yang bisa merugikan berbagai pihak terkait.
➡️ Baca Juga: Roy Suryo Menguraikan Langkah Rismon Dalam Mengajukan Restorative Justice Dengan Keyakinan Tinggi
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Mendapatkan Uang Online dari Pekerjaan Digital Berdasarkan Permintaan Tanpa Jam Kerja




