Iran Hilangkan Kepercayaan kepada AS dalam Negosiasi, Ketegangan Meningkat Kembali?

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengungkapkan bahwa Tehran telah kehilangan kepercayaan terhadap proses perundingan dengan Amerika Serikat (AS). Ia menilai bahwa serangkaian putaran negosiasi di masa lalu justru diikuti oleh serangan militer dan penerapan sanksi yang semakin memperburuk hubungan.
“Kami tidak percaya kepada pihak Amerika dan tidak mengerti dasar dari kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan mereka,” jelas Pezeshkian dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh stasiun televisi Qatar pada 26 September, yang dirangkum oleh laman berita internasional.
Baru-baru ini, Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan kunjungan ke AS untuk menghadiri pertemuan para pemimpin dunia dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam acara tersebut, Iran mengajukan usulan untuk menghentikan konflik dalam perang yang dipimpin AS dan Israel melawan Iran, serta membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari.
Araghchi menyatakan kepada wartawan bahwa langkah awal dari kesepakatan tersebut akan memerlukan waktu sekitar empat hingga lima hari. Selat Hormuz diharapkan dapat dibuka kembali pada hari keenam, dan pada hari ketujuh perundingan dengan AS akan dimulai untuk membahas kesepakatan akhir mengenai berbagai isu, termasuk program nuklir Iran.
Dalam proposal yang disampaikan, Washington akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan membebaskan penjualan minyak Iran dari sanksi. Selain itu, mereka juga diharapkan dapat mencairkan sekitar US$12 miliar aset Iran yang saat ini dibekukan, serta menerapkan gencatan senjata yang mencakup seluruh kawasan, termasuk Lebanon dan Yaman.
Sebagai imbalannya, Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz, yang sebelum konflik menjadi jalur penting untuk sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Saat ini, selat tersebut menjadi salah satu alat tawar strategis bagi Teheran.
Pezeshkian juga menambahkan bahwa Qatar dan Pakistan berperan sebagai mediator yang menyampaikan pesan-pesan Iran kepada Washington. Ia menyebutkan bahwa perundingan ini merujuk pada Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua pihak pada bulan Juni, tetapi telah berakhir bulan lalu. Oleh karena itu, AS perlu memberikan klarifikasi mengenai sikap mereka terhadap perjanjian tersebut.
Konflik ini dimulai pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dengan ketegangan yang terus meningkat, situasi politik di kawasan ini semakin kompleks, dan banyak yang bertanya-tanya bagaimana langkah selanjutnya akan diambil oleh kedua belah pihak.
➡️ Baca Juga: Jadwal SIM Keliling di Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Bandung pada Sabtu 15 Agustus 2026
➡️ Baca Juga: Erick Thohir Ungkap Kejutan: John Herdman Persiapkan Dua Pemain Eropa untuk Timnas Indonesia




