Harga Aluminium Naik 13 Persen Akibat Perang, Industri Otomotif Jepang Siap Menghadapi Tantangan

Perang di Iran telah memicu dampak yang signifikan terhadap sektor manufaktur di Jepang. Tidak hanya industri energi dan pariwisata yang merasakan efeknya, tetapi juga produsen otomotif dan perusahaan suku cadang yang kini menghadapi tantangan serius akibat krisis pasokan aluminium yang berasal dari Timur Tengah.
Ketergantungan Jepang terhadap aluminium yang diimpor dari kawasan tersebut kini menjadi masalah utama. Banyak perusahaan harus melakukan pemangkasan produksi dan mencari alternatif pasokan setelah jalur pengiriman utama terganggu akibat konflik yang dimulai sejak akhir Februari 2026.
Perusahaan-perusahaan otomotif, seperti Toyota Motor dan Denso, adalah di antara yang paling terpengaruh oleh situasi ini. Menurut asosiasi industri otomotif terbesar di Jepang, sekitar 70 persen aluminium yang diimpor untuk memenuhi kebutuhan produsen mobil domestik berasal dari Timur Tengah.
Di tengah kondisi ini, harga aluminium—logam yang ringan dan esensial untuk berbagai komponen kendaraan, mulai dari mesin hingga velg—telah mengalami lonjakan sekitar 13 persen sejak perang dimulai.
Daiki Kato, CEO Kato Light Metal Industry, menyatakan bahwa dampak dari kekurangan pasokan mulai dirasakan dan dapat segera mengganggu proses produksi komponen otomotif. “Meskipun baru sebulan, kami hampir pasti akan menghadapi kesulitan dalam memproduksi suku cadang mobil,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang dilansir oleh Japan Times pada Senin, 20 April 2026.
“Kami akan lebih selektif dalam pengeluaran dan berusaha untuk menghemat energi,” tambahnya, menunjukkan langkah-langkah yang diambil perusahaan untuk menghadapi tantangan ini.
Proyeksi situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Produsen aluminium terbesar di Timur Tengah bahkan memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu setidaknya satu tahun untuk kembali ke tingkat produksi normal.
Analis dari JPMorgan Chase juga mengingatkan bahwa industri aluminium telah terjebak dalam sebuah “lubang hitam”. Meskipun kesepakatan damai mungkin tercapai dan Selat Hormuz dibuka kembali, proses normalisasi pengiriman kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan.
Pada tahun 2025, Jepang mengimpor sekitar 590.000 ton aluminium dari Timur Tengah, yang mencakup sekitar 30 persen dari total pasokan nasional, menurut data dari Japan Aluminium Association. Meskipun Amerika Serikat mengimpor aluminium lebih banyak daripada Jepang, perusahaan-perusahaan di sana tidak menghadapi risiko kehabisan stok karena sebagian besar pasokan mereka berasal dari dalam negeri serta Kanada.
Analis S&P Global, Masatoshi Nishimoto, menilai Jepang sebagai negara yang paling rentan terhadap kekurangan aluminium saat ini. Selain Jepang, negara-negara di Asia Tenggara, China, dan Korea Selatan juga berada dalam kategori wilayah dengan “risiko terbesar” terkait dengan gangguan pasokan logam ini.
➡️ Baca Juga: Prabowo dan Presiden Macron Bahas Pengadaan Alutsista serta Energi di Paris
➡️ Baca Juga: Strategi Investasi Saham Efektif untuk Karyawan dengan Penghasilan Bulanan Stabil




