Apindo Tegaskan Komitmen untuk Menyelesaikan 14 Isu Prioritas Penghambat Usaha

Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menegaskan komitmennya untuk mengatasi 14 isu prioritas yang menghambat dunia usaha dengan membentuk Task Force Debottlenecking Hambatan Berusaha. Tim ini bertugas untuk melakukan identifikasi, pemetaan secara mendetail, serta mengawasi dan memastikan penyelesaian berbagai masalah yang dihadapi oleh sektor usaha hingga tuntas.
Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menjelaskan bahwa 14 isu prioritas tersebut mencakup sejumlah aspek penting, termasuk kepastian pasokan bahan baku industri, harga gas, logistik, kebijakan nutrisi, tata ruang, kewajiban pelaporan keuangan, hingga Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk mineral dan batu bara.
“Setiap hambatan yang berhasil kami atasi adalah langkah awal untuk menghidupkan kembali roda perekonomian. Langkah-langkah yang memudahkan dunia usaha akan menciptakan lebih banyak peluang dan lapangan kerja,” ungkap Shinta dalam pernyataannya di Jakarta, pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Lebih lanjut, isu lainnya yang menjadi perhatian adalah sertifikasi halal, pengelolaan sampah melalui mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR), regulasi ekspor komoditas, kebijakan yang menghambat sektor pariwisata, serta penyempurnaan RUU Ketenagakerjaan.
Shinta menyatakan bahwa sejumlah masukan dari kalangan pengusaha telah mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah, sebagai bagian dari upaya untuk memperbaiki iklim usaha di tanah air.
Dia juga mencatat bahwa pentingnya perbaikan di sektor riil dapat terlihat dari tantangan dalam ketenagakerjaan di Indonesia. Sekitar 67 persen pengangguran berasal dari generasi muda, yang sebagian besar merupakan Generasi Z, sementara hampir 60 persen tenaga kerja masih bekerja di sektor informal.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa agenda ekonomi Indonesia harus fokus tidak hanya pada penambahan jumlah pekerjaan, tetapi juga pada penciptaan pekerjaan yang produktif, berkualitas, formal, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, upaya untuk memperbaiki iklim usaha harus berjalan seiring dengan perluasan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi, yang salah satunya melalui peningkatan investasi di daerah.
➡️ Baca Juga: 2 Kasus Penculikan berani di Pasar Rebo: Semua yang Perlu Anda Ketahui
➡️ Baca Juga: Haji Faisal Menolak Reza Arap, Netizen Soroti Sikapnya di Momen Bersama yang Ganteng




