Polisi China Hentikan Ritual “Menyembah Dewa” di Kuil Guangdong, Dikenal Sebagai Takhayul

Aparat kepolisian di Wuchuan, Provinsi Guangdong, China, mengambil tindakan tegas pada 22 Maret dengan memblokir akses ke kuil di Desa Nalu. Akibatnya, ritual tahunan yang dikenal dengan nama “Parade Para Dewa” (You Shen) terpaksa dibatalkan. Tradisi ini bukan hanya menandai perubahan musim semi tetapi juga berfungsi sebagai doa untuk perlindungan bagi komunitas desa.
Dengan pintu kuil yang tertutup, suara warga desa menggema di sekeliling lokasi, meneriakkan ungkapan “Berkati para Dewa” dan “Kami ingin menyembah para Dewa.” Namun, petugas di tempat itu tetap menegaskan larangan tersebut dengan tegas, menyatakan, “Tidak boleh menyembah.” Menghadapi pembatasan yang ketat, warga akhirnya berusaha melaksanakan ritual dengan membungkuk dan mempersembahkan dupa dari luar area kuil, meskipun dihadapkan pada kehadiran polisi berseragam.
Peristiwa yang terjadi di Desa Nalu ini mencerminkan tren yang lebih luas mengenai pembatasan praktik keagamaan di berbagai lokasi di Tiongkok, khususnya di wilayah tenggara. Dalam beberapa waktu belakangan, pihak berwenang semakin memperketat kontrol atas perayaan kuil, prosesi, dan ritual tradisional yang telah ada selama berabad-abad.
Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat ini sering kali dikategorikan sebagai “takhayul” oleh pejabat setempat, meskipun bagi masyarakat pedesaan, ritual tersebut memiliki nilai budaya dan spiritual yang sangat penting.
Di Provinsi Guangdong dan Fujian, ritual “Parade Para Dewa” merupakan bagian dari agenda tahunan yang dianggap sangat vital. Masyarakat percaya bahwa prosesi ini tidak hanya memberikan perlindungan bagi desa, tetapi juga memberkati tanah sebelum musim tanam, serta memperkuat hubungan sosial di antara warga.
Waktu pelaksanaan ritual yang bertepatan dengan awal musim semi dianggap memiliki makna simbolis yang dalam. Pada saat ini, patung-patung dewa biasanya diarak keluar dari kuil dan dibawa berkeliling desa, melambangkan pembersihan lingkungan serta harapan akan keberuntungan. Prosesi ini menjadi bagian integral dari identitas masyarakat lokal.
Namun, sifat ritual yang melibatkan kerumunan besar, pengorganisasian mandiri oleh warga, serta kedekatan sosial yang kuat menjadi hal yang menimbulkan kekhawatiran di tengah kebijakan pemerintah yang ketat terhadap aktivitas kolektif di luar kerangka keagamaan yang resmi.
Di Desa Nalu, sejumlah warga berusaha mendokumentasikan kejadian tersebut melalui telepon genggam. Mereka tetap berupaya menjalankan ritual meskipun harus melakukannya dari luar area kuil akibat adanya blokade oleh aparat.
Rentetan kejadian serupa di berbagai daerah menunjukkan adanya ketegangan mengenai ruang praktik budaya dan keagamaan yang tradisional. Bagi banyak komunitas pedesaan, “Parade Para Dewa” diangap sebagai simbol keberlanjutan tradisi dan identitas lokal. Sementara itu, bagi otoritas setempat, kegiatan tersebut semakin dianggap sebagai aktivitas yang perlu dibatasi atau dikendalikan.
➡️ Baca Juga: Jepang Diprediksi Bakal Diguncang Gempa M 9,0, Pemerintah
➡️ Baca Juga: Rupiah Tertekan Setelah Pengumuman Surplus Neraca Dagang Indonesia Februari 2026




